February 15, 2020 Gucheng, Lijiang, Yunnan, China

Kota Tua Lijiang yang Dingin dengan KFC dan Starbucks di Depannya

"Gung tukeran duduknya ya, mau lihat pemandangan..." pinta saya ke Agung saat kami beristirahat di tengah perjalanan. Jika di awal kami baik bus menuju Shangri la, kini kami naik mini-bus carteran yang disediakan oleh hostel untuk kembali ke Lijiang. Ongkosnya sedikit lebih mahal dari bus, tapi kami diturunkan persis di depan south gate, titik terdekat menuju hostel kami di kota tua. Lumayan kan daripada lumanyun jalan kaki jauh-jauh.

Selagi menunggu orang hostel menjemput, kami mengamati jalan utama Lijiang yang begitu ramai hingga macet-macet kecil dan terdengar bunyi klakson di sana sini. Lijiang ternyata lebih ramai orangnya ketimbang Shangri la.

Kami terus mengamati sekitar sampai tahu-tahu ada sosok pemuda kurus menunjukan foto kami di hp-nya yang dikirim Agung via WeChat beberapa menit sebelumnya. Dia menuntun kami masuk ke old town Lijiang, berjalan melewati bangunan-bangunan kayu yang menjajakan souvenir, topi rajut, bakpao, makanan-makanan barat, sampai akhirnya belok setelah melewati Toko Teh O.

Kamar berdebu dan anjing yang selalu tidur di sofa

Hostel kami berada di gang yang sunyi dan gelap, dengan jendela kaca besar dan tanaman-tanaman layu di halaman. Untungnya ada samoyed berbulu putih berbadan besar menyambut kami riang—dia juga selalu ada setiap hari, jadi lega karena berarti hostel gak ada hantunya xixixi.

Di hostel ini saya belajar sesuatu, bahwa jetlag bukan hanya soal perbedaan waktu tapi juga hostel. Saat pagi, kami masih menikmati room heater, handuk besar untuk setiap orang, sabun mandi wangi, dan kamar bersihnya Yi's Hostel Shangri la. Lha malamnya, kami satu-satunya kehidupan di ujung gang coba! Handuk besar hanya dua sisanya handuk kecil, kamar berdebu mungkin dengan beberapa kutu, dan ventilasi (di musim dingin!).

Selain masalah jetlag hostel saya juga belajar kalau besok-besok pergi ramean, duluan mandi biar dapat handuk besar.

Samoyed penjaga hostel yang suka makan jeruk.

Yang paling lucu ya jendela besarnya. Jika masuk ke kamar Agung dan Mas Gepeng lalu buka tirai, nah itu dia jendelanya langsung tembus ke jalan. Bukan hanya hostel kami, tapi banyak hostel lainnya menerapkan desain serupa. Penasaran, jangan-jangan dulu rumah ini bekas rumah bordil? Atau memang orang Cina suka dilihat orang-orang saat bangun tidur? Entahlah.

Saat beres-beres barang, Mbak Firda memperingatkan untuk gak taruh barang di kursi, "Kotor banget!" katanya. Gak ada pilihan lain, saya menaruh barang-barang di lantai dan tetap membungkusnya. Saya biasanya kuat gatal, tapi kali ini saya gak bisa tahan. Penyebabnya bisa kutu Cina, debu di kasur, atau inner yang gak ganti seminggu.

Di waktu yang lain, saya ngedumel karena Agung mandi dengan begitu banyak air dan saat giliran saya masuk, airnya nggenang semata kaki. Ada orang yang mandi dengan air segini banyak? Ada. Durjana betul.

Tapi di samping semua kelucuan itu, saya akhirnya tahu gimana rasanya shower kacang yang banyak di jual di Lazada. Shower produksi Cina yang katanya bisa bikin mandi serasa mandi hujan karena airnya kecil dan deras, dengan bola-bola (mirip) kacang di dalamnya. Airnya memang deras, tapi tajam sekali, bikin sakit kalau kena puting.

Saya juga paling senang melihat anjing manis yang setiap pagi, siang, malam, tidur di sofa ruang tamu. Saya gak pernah melihatnya bangun sampai hari terakhir, saat kami mengobrol dengan tamu lain dan si anjing ikut karena dia ingin makan bebek tapi gak boleh. Kalian akan mengetahui ceritanya di akhir tulisan ini.

Makan KFC di Cina

Di suatu pagi yang dingin, kami bangun kelaparan. Agung sudah ada sarapan mie cup instan, Mbak Firda susu kotak dan buah kesemek, sedangkan saya dan Mas Gepeng bekal minta. Tapi semua itu gak cukup. Kami harus tetap keluar dan berjalan ke arah barat demi menemukan makanan suci.

Saat perjalanan, saya mampir sebentar ke kedai makan mungil yang kami lewati untuk beli teh telur. Selagi ibu penjual mempersiapkan pesanan, saya mengamati betapa cantik pemandangan dari dalam kedai. Persis di sebelah kanan pintu ada pohon berdaun cokelat tua, beberapa helainya yang kering jatuh ke atas semak-semak hijau kekuningan. Sayangnya momen itu buyar saat Mas Gepeng nyahut, "Siap siap kalau ada bau kentut, udah tau cari siapa."

Old town Lijiang dibangun sedemikian rupa untuk memanjakan pendatang. Bangunan tertata rapih di gang yang saling terhubung, dengan nuansa kayu dan pepohonan berwarna menghiasi sudut, benar-benar konsep old town modern yang gak setengah-setengah. Gak heran banyak juga yang ke sini untuk foto-foto pre wedding.

Me and my comfort food
Salah satu restoran di old town Lijiang.
Saat pagi dan mobil sampah sedang patroli. 
Bangunan tertata rapih dan artistik.
Tas keranjang, tas populer untuk membawa buah atau sayur-sayuran hasil belanja di pasar. Kadang ada yang buat bawa anjing juga, buat diajak jalan-jalan yaa bukan dimakan wkwkwk.

Sampailah kami di tempat sarapan yang diidam-idamkan bernama KFC. Lokasinya berada di ruko bagian depan old town, sejajar dengan Starbucks dan kalau majuan lagi bisa ketemu Watson. Ini yang asli beneran ya, bukan toko lucu bernama Cherlss & Keich atau 7Evelyn HAHAHA (you know toko itu ada beneran!). Kirain karena Cina sudah bisa bikin yang KW Super, gak akan ada yang asli di sini.

Anyway, KFC di Cina beda sama di negara lain yang pernah kami cicip. Kalau biasanya kami makan di sini untuk menghemat pengeluaran, di Cina gak bisa gitu gengs. Mereka gak punya harga paket ekonomis, pun harga a la carte-nya mahal dan ayamnya kecil banget bok! Untungnya mereka sedia air hangat gratis, jadi lumayan gak perlu beli minum.

Kenyataannya, kami gak nemu banyak olahan masakan dari ayam. Kalau di restoran halal, lebih populer sapi dan yak. Kalau non halal, babi tetap tapi idola, dilanjutkan sapi, kalajengking, trenggiling, ya apapun yang hidup di bumi lah wkwk.

"Pesananku kok beda ya sama gambar..." Mbak Firda bertanya-tanya sambil memandangi ayamnya. Setelah memastikan bahwa gambar ayam yang dipesan beda dengan yang diantarkan, dia mendatangi kasir. Menjelaskan pakai bahasa tubuh gak mempan, kami pakai bahasa Inggris. Gak mempan juga, kami pakai Google Translate. Kasir masih bingung, akhirnya Bu Manajer toko yang bertindak. Dengan sigap dia memberikan ayam pesanan Mbak Firda dan menggratiskan ayam yang sudah diantarkan. Enak betul. Meski kecil, setidaknya kan dia dapat ayam dua porsi.

Duduk di pinggiran untuk foto saja, makannya di dalem. Silaumen!
KFC-nya bagus sih. Bersih, rapih, dan cozy. Mereka sediakan buku dan majalah untuk dibaca-baca. Bahasa Cina tapi ya wkwk.
Menu makanan saya dan Mas Gepeng dari kanan ke kiri (biar kek orang ngaji): ayam original dua biji, coleslaw, twister ayam (enak bat!), dan jagung rebus. 

Teh wangi dan permen kelinci

Setelah sarapan, kami lanjut menjelajahi old town Lijiang terus ke barat lagi. Saat Agung dan Mbak Firda berjalan di depan, saya menoleh ke panggilan mas-mas muda dari toko teh yang wangi. Kaki masih terus melangkah maju, tapi kepala masih melihat toko teh. Saat wajah si mas-mas teh sudah mulai menghilang, saya malah balik badan dan mampir. Mas Gepeng paling gak suka sama kelemahan saya ini. Bukan, bukan karena gampang tergoda panggilan, tapi karena langsung belok gak pakai kasih kabar. Kesannya jadi hilang dan bikin bingung. Tapi ya gimana kan hehehe.

Toko teh ini menyediakan teh alami dari biji, daun, bunga, dan potongan buah kering. Mas pramusajinya ganteng kayak orang Korea, tapi dia asli Cina. Bahasa Inggrisnya lumayan bagus, jadi kami banyak ngobrol apalagi saya suka banget minum teh, jadi dia kasih cicip minum teh banyak banget sambil terus nyerocos ngomong. Kalau sudah begini, Mas Gepeng hanya menunggu di depan toko seperti biasa, dengan harapan saya gak kelamaan di dalam dan gak tergoda belanja. Nyatanya saya di sana lama banget, sampai Agung dan Mbak Firda nyusul balik dan ikutan cicip teh dan belanja. "Pantesan kamu lama di sini, mas-nya nyerocos terus, tapi tehnya emang enak sih..." kata Mbak Firda.

"Umm... Fat.. Fat.." katanya sambil menyentuh pipinya saat saya tunjukan foto ini. Kalau dia segitu fat, paha ogut apa namanya?

Saat malam, old town Lijiang tampak seksi dengan warna hangat temaram. Kami menikmati jalan sambil cicip jajan mulai dari tahu goreng Sichuan, permen susu yak, dan, yah itu doang jajannya hahaha. Menariknya, kami jarang banget ketemu orang barat di sini, mayoritas pendatang dari Cina, Korea, Singapur, dan mungkin Jepang juga karena kebanyakan sipit-sipit. Kalau ketemu yang jilbaban, biasanya dari Malaysia karena mereka punya direct flight ke Kunming. Sisanya orang Asia semua.

Kota tua ini luas banget, literally luas gak ketulungan. Jadi kalau pas sebelumnya mampir toko lalu lupa ada di mana tapi mau beli, pasti ketemu toko yang sama di sisi jalan yang lain kok. Seperti toko permen susu kelinci—itu lho yang dimakan bareng bungkusnya, yang sekarang jadi ramuan minuman boba wkwk—dia ada di mana-mana, di gang barat, timur, selatan, ada semua. Saya dan Mas Gepeng rencana beli kaus kaki permen kelinci buat oleh-oleh, tapi sayang toko ini (dan mayoritas toko lainnya) gak sedia EDC dan kami kehabisan cash, jadinya batal beli.

Di malam yang lain, kami menjelajahi old town sampai ujung dan bertemu pasar. Kalau malam, pasar sayurnya tutup dan hanya jajanan yang buka. Saya dan Mbak Firda borong beli ubi bakar untuk bekal makan, sementara itu Agung beli sate ayam halal karena dia gak suka ubi. "Mau coba?" tawar Agung. Pas coba, waduh kok begini rasanya ya. Saya lalu minta dibelikan dua tusuk sama Mas Gepeng dan memakannya sambil senyum-senyum. Enak banget. Kalau ke Lijiang, plis cobain ya. Bapak satenya juga ramah sekali.

Ada salah satu bagian old town yang dipasang banyak instalasi patung kucing lucu. Ada yang kucingnya lagi berdoa, main di atas genteng, duduk di taman, memberi ikan ke paduka kucing, sembunyi di semak-semak, maling ikan, dan lain-lain.
Malam di old town banyak spot buat foto-foto kayak gini karena biasanya yang ramai itu di bagian gang pertokoan. 
Bapak muslim penjual sate ayam. Sumpah seenak itu satenya bepqu!

Saat hendak balik, Mbak Firda belanja buah persimmon alias kesemek. Harganya murah sekali hanya ¥15 sekilo dan rasanya manis-manis. Saat beli buah, kami ketemu sama mbak-mbak dari Malaysia yang sedang berusaha nawar harga buahnya. Meski si ibu penjual ketawa ketiwi, nyatanya kami tetap gak jadi beli stroberi segar karena harganya mahal sekali, ¥50 sekilo! Tapi saya dikasih tester stroberi kecil sama ibunya hehehe.

Malam terakhir dan ubi di bawah selimut

Oh saya jadi ingat malam setelah beli sate, saat kami jalan berdua saja tanpa Agung dan Mbak Firda untuk mencari ATM yang jumlahnya mungkin sama sedikitnya dengan kucing di Lijiang. Karena sebelumnya sudah banyak jalan dan jalan kaki terlalu lama bukanlah sifat alami saya, makan saya menyerah dan mengajak Mas Gepeng putar balik. "Oyong, ayok kita pacalan jalan berduwa hihihi..." kata saya sok lucu sambil lendotan.

Saya sangat menikmati malam itu. Jalan gandengan tanpa ada tujuan. Gak mampir sana sini, gak penasaran sana sini (karena gak pegang uang juga wkwk), hanya jalan saja. Ternyata pergi bersama teman-teman bisa membuat saya lebih kangen sama Mas Gepeng meski kami sebenarnya bareng-bareng terus. Tambah lagi sebenarnya sejak di Shangri la, saya sulit tidur karena tidurnya sama Mbak Firda, bukan sama Mas Gepeng. Bisa gitu ya?

Rasanya sampai jealous sama Agung karena dia tidur sama Mas Gepeng, meski at the same time kasihan juga karena pasti dia keberisikan dan kebauan karena selama di Cina, Mas Gepeng malas sikat gigi sebelum tidur wkwk. Eh tapi tunggu dulu.

Ada suatu malam saat kasur mereka sudah hangat saat kami pulang karena Agung menyalakan heater seharian. Kok cerdik betul. Saya, yang kasurnya sedingin es, langsung selimutan di kasur mereka sambil memohon, "Lo gak kasian gue lama gak tidur sama Mas Gepeng berhari-hari nih, kangeen..." Dia tanpa pikir panjang jawab "Bodo amat, ini urusan survival hidup!" Atau sebenarnya Agung senang bobok sama Mas Gepeng?

Saat tiba di hostel, ada tamu baru datang dari Thailand, namanya Maha (dan Joseph yang menyusul kemudian). Dia bersantai sambil bekerja di ruang tamu bareng Agung, mbak dan mas orang hostel (maaf saya lupa namanya). Kami langsung gabung ngobrol banyak hal sambil ngemil bebek steam dan teh khas Cina. Saya akhirnya tahu bahwa orang Cina akan selalu menuangkan teh ke tamu setiap cangkir mungil itu kosong. Selalu. Seolah cangkir teh kosong itu dosa. Mereka juga akan selalu seduh lagi juga setiap teh sudah hendak habis.

Teh yang terus hangat dan rasanya enak sekali. Si mbak pengertian sekali menyajikan teh halal untuk kami, meski sebenarnya saya gak paham juga teh halal tuh maksudnya gimana, apa pas dipetik sambil takbir atau gimana ya wkwk, tapi rasanya terima kasih sekali begitu dihargai.

Seperti namanya, semua tentang Maha itu besar, mulai dari wawasannya, laptopnya, handphone-nya, tertawanya, sendalnya, juga badannya xixixi. Dia yang memberi tahu kami bahwa Thailand punya kota bernama Ayutthaya, yang mana kayak Yogyakarta-nya Indonesia. Dia juga yang menjelaskan banyak hal soal kerajaan dan kebudayaan yang mirip antara Thailand dan Indonesia. Cool.

Malam itu semua anjing berkumpul. Ada si samoyed putih, si border collie hitam, dan si manis (saya gak tahu dia jenis apa) yang akhirnya bangun setelah sepanjang hari tidur di sofa. Lucu banget dia berada di samping meja untuk minta daging bebek tapi gak boleh sama pemiliknya. Dia terus memasang mimik melas, tapi ya tetap gak boleh.

Saat akhirnya sadar bahwa dia gak bakalan dapat bebek, dia pindah ke dekat Mas Gepeng. Entah gimana ceritanya tahu-tahu dia sudah dipangku Mas Gepeng dan bobok manja di situ sepanjang malam. Aneh dia. Padahal ada dua anjing jantan ganteng gagah-gagah malah pilih Mas Gepeng.

Si manis tukang tidur, ternyata semenggemaskan ini saat bangun!
Ngobrol sama Maha sambil ngelonin anjing.

Malam terakhir di Lijiang, salju turun lebat di gunung dan cuaca kota makin dingin. Saya kembali ke kamar pukul setengah sepuluh dan mendapati Mbak Firda sedang duduk mengumpulkan niat untuk mandi. Kamar kami dingin sekali. Ini gegara lobang ventilasi durjana yang membawa angin luar leluasa masuk ke kamar. Tapi bukannya berusaha menghangatkan diri, kami malah menimbun ubi di bawah selimut, di titik terhangat heater agar ubi tetap kenyal dan enak di makan besok hari.

7 comments

  1. plis kasih tau nama hostelnya apaaa, pengen uwel2an sama doggo2nya :"))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya Xiangyuan Guest House, carinya di Agoda, Mir. Emang anjing-anjingnya gemec banget! Apalagi si manis itu beneran cuman tidur doang kerjaannya, bangun-bangun malah lucu minta pangku. Udah gitu matanya bulat besar berkaca-kaca~

      Delete
  2. Waaaa the best momen di Lijiang ini insting burung dara ku disetting ulang. Banyak sudut sudut yang bikin instingku terhenyak untuk inget inget jalan pulang ahhahaha
    Oh trus di hotel berasa jadi Cesar Millan karena 3 anjing itu nurut smua sama aku hahaha
    -Gepeng-
    -Nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kamu hebat ih. Aku aja ngeh jalan balik ke hostel pas di hari terakhir, sebelum-sebelumnya berasa ada di labirin, sama semua jalannya wkwk. Dan terus iya ituuu kenapa anjingnya mau sama kamuuuu! Si manis aku ajak pangku gak mau, yang cowok-cowok juga lebih seneng meluk kamu ketimbang meluk aku. Apa salah dan dosa qu :'(

      Delete
  3. Yg aku beli buah peach tin, enak banget manis! Aku beli dua kilo engga abis sampai dibawa balik ke indo..mayan bisa buat oleh-oleh orang kantor.. wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooooh itu peach. Oh iya ding dia kayak pantat ya, lupa aku. Sumpah sampai Jakarta masih ada? Kirain kamu habisin di pesawat, ampe mabok kayaknya makan peach mulu gak habis habis~

      Delete
    2. Iyaaa...haha, aku kasih tepi, ipeh, sama bu retno.. itu buah pas di China seger terus walaupun diluar ruangan, begitu sampai indo langsung lemes.. kadang itu yg buatku iri sama negara sub tropis.. :)

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!