February 23, 2020 Innsbruck, Austria

Cerita dari Nordkette dan Patscherkofel di Innsbruck

Pagi yang damai di Innsbruck, kami duduk di taman pekarangan tengah perhunian setelah kecewa gak bisa sarapan di McCafé. Gak ada orang sama sekali di sana, di jalan, di mana pun. Mungkin ini sedikit gambaran tentang surga, pikir saya. Suasananya tenang, dingin-dingin sejuk, Mas Gepeng tidur nyenyak di sebelah, gak mikirin kerjaan, dan sejauh mata memandang, pegunungan salju tampak mengitari Innsbruck.

Tapi kemudian, perut keroncongan gegara cacing-cacing mengamuk minta asupan bergizi. Kalau kamu pas gak bisa masak dan semua toko baru buka pukul 10, masih jadi surga gak? Kamu mungkin sering membayangkan bagaimana selebriti atau brand ambassador ketika baru sampai di bandara sebuah negara, mereka akan dijemput dengan mobil dan dibawa ke kafe yang sengaja buka khusus untuk mereka, lalu menyesap latte espresso hangat sambil bersandar di kursi sofa yang nyaman.

Sayangnya yang ada di sini adalah #justinindyo, yang tiba subuh-subuh di terminal bayangan FlixBus dengan pinggang pegal-pegal akibat tidur di kursi sepanjang malam, yang menahan pipis karena gak ada convenience store atau pom bensin buka—meski akhirnya kami bisa numpang pipis di toilet umum stasiun yang dibuka 10 menit saja oleh petugasnya karena dia lihat saya berjilbab, dan berakhir duduk di taman, menikmati makanan sisa lebihan dari Slovenia, lalu sayup-sayup tidur.

Ya begitu lah realita kehidupan #sobataverage wkwk.

Tidur di taman.
Makan kebab yang sudah blenyek blenyek. Untung masih enak.

Tiga jam pertama di Innsbruck, kami jalan santai menuju titik terdekat AirBnB yang ternyata oh ternyata sungguh jauh. Lokasinya berada di pinggiran kota, di tengah kawasan pemukiman yang hening. Sebenarnya bus sudah beroperasi sejak pukul 5, tapi Mas Gepeng menganggap jalan kaki dengan kerir di pagi 15°C adalah ide yang bagus.

Innsbruck di Minggu pagi adalah tentang kesyahduan. Langit biru cerah tanpa awan, burung-burung mulai berkicau, anjing dan pemiliknya mulai jalan pagi, gak ada suara sama sekali karena hampir semua orang menikmati indahnya akhir pekan di rumah. Syahdu, dan hening.

Apartemen Robert

Saya menghubungi Robert, host AirBnB kami tentang jalan menuju ke sana. Robert berjanji akan bangun lebih pagi demi bisa memandu dan menyambut kami, karena dia sadar, apartemennya gak mudah ditemukan. Kami beberapa kali mencoba simulasi sesuai petunjuk Robert, tapi gak ketemu juga. Gang-gang lucu apartemen di Innsbruck lumayan membingungkan karena gak ada nomornya.

Lalu Robert mengirim gambar gang apartemennya, dengan portal kecil warna merah yang gak berfungsi dengan ember dan gerobak sampah di sisi kananya. "Ini dia!" teriak saya girang setelah menemukannya dengan sangat mudah. Gini kek dari tadi.

Rasa bete karena lelah menenteng tas sambil jalan kaki mencari rumah, berubah jadi girang. Dari apartemen Robert, kami bisa melihat pegunungan salju dengan mudahnya. Semua jendela mengarah ke sana. Apartemennya pun gak jauh dari stasiun bus kecil, hanya melewati tiga gang dan satu perempatan, memudahkan kami untuk pergi ke pusat kota.

Rasanya makin sumringah saat Robert bilang beberapa hari belakangan ini cuaca hujan terus, namun hari ini, matahari muncul sejak pagi dan akan terus muncul sampai dua hari ke depan. "This is for you, a special day," katanya.

Pemandangan dari ruang kerja Robert.
Yang berantakan dari apartemen Robert adalah ya barang-barang kami wkwk.

Apartemen Robert even special. Orang ini (dan kekasihnya) sangat cinta kebersihan. Sebuah review menyebutkan rumahnya squeaky clean, dan itu kenyataannya benar-benar sekinclong itu. Super bersih, keset, dan rapih. Kamar mandinya meski gabung dengan mesin cuci, tapi semuanya sangat tertata. Amenities milik Robert dan kekasihnya pun ditempatkan dengan baik. Selama di sana, saya pakai sabun dan sampo yang wangi buah-buahan, wuah uenak banget apalagi mandinya di bath-tub. Hilang semua pegal dan lelah.

Mendaki Nordkette

Pusat kota Innsbruck adalah lokasi turis. Semua lokasi wisata mudah dijangkau dari sini dan informasi lengkap ada di pusat informasi turis. Untuk menghemat perjalanan, kami membeli Innsbruck Tourist Pass yang berlaku 24 jam. Dengan kartu ini, kami bisa gratis masuk ke banyak kawasan wisata seperti gondola (Innsbruck punya tiga, kita bisa pilih salah satu atau naik ketiganya), museum, Alpenzoo, dan bisa pinjam sepeda juga. Para turis dengan Innsbruck Pass juga gratis naik angkutan umum tengah kota seperti bus dan tram. Asyique!

Kami lalu berjalan menuju Innsbruck Congress Station yang dari jauh sudah kelihatan atapnya mirip pesawat tempur (Zaha Hadid lho yang bikin). Dari sini, kami naik funicular Hungerburg untuk menuju stasiun pertama gondola, namanya Seegrube (1905m) atau ada juga yang menyebutnya Hermann Buhl square, di ambil dari pendaki legendaris Austria.

Congress Station.
Pemandangan dari funicular.
Nordkette juga populer untuk trekking. Jalurnya pun sudah tersedia, tinggal ikuti saja.
Seegrube.

Di sini ada Seegrube Restaurant yang menghadap langsung ke Karwendel Nature Park, alias pegunungan salju dengan pepohonan dan ngarai-ngarai lebar. Kami sempatkan mampir untuk melihat-lihat suasana restoran, sambil menerka apakah kami bisa makan siang di sini atau gak (ternyata gak hahaha). Banyak orang bersantai sambil ngebir di sisi outdoor restoran, ada juga yang hanya ngumpul hahahihi. Saya pribadi gak suka tempat terlalu ramai (dan mahal wkwk), jadi kami memutuskan lanjut naik gondola ke Hafelekar (2256m).

Gondola hanya mengantar sampai Hafelekar, berapa meter berikutnya bisa dijangkau dengan trekking. Jalurnya mudah kok, hanya harus hati-hati karena suka licin. Kami terus trekking sampai ke palang salib Hafelekarspitze (2334m) dan menikmati pemandangan 360° Innsbruck. Di atas sini, kita juga bisa melihat bagian negara Jerman dan Italia—tapi saya gak tempe sebelah mana wkwk.

Sampai Hafelekar, jemur kaus kaki yang basah kena salju. Emang paling benar ke gunung salju pakai sepatu anti air.
Ngarai lebar pegunungan salju. Cantik banget!
Sah sampai Hafelekarspitze!

Saat trekking, kami bertemu eyang yang mendaki ke Hafelekarspitze. Kalau gak salah usianya sudah 90an, saya agak lupa. Si eyang mendaki perlahan, selangkah demi selangkah, sesekali mendongak untuk melihat jalur di depan, lalu menunduk dan berjalan lagi dengan sangat hati-hati. Eyang bilang bahwa dia sudah berkali-kali main ke sini, jadi sudah biasa. Mungkin saat muda, eyang adalah seorang pendaki dan Nordkette adalah salah satu gunung favoritnya. Banyak yang memotret eyang, entah memang niat mengabadikan atau untuk ngisi-ngisi media sosial menyuarakan motivasi. Eyang gak masalah dipotret, kamu ajak foto bareng juga mau.

Eyang pendaki.
Mas Gepeng dan eyang pendaki di belakangnya. Kami sempat papasan beberapa kali, tapi karena gak mau ganggu, kami pilih jalur yang berbeda.

Masalah foto di kehidupan rumah tangga

Saat di Hafelekarspitze, kami duduk-duduk menikmati pemandangan yang begitu amat sangat cantik. Suasananya pun syahdu meski ramai banget orang, mungkin karena suara berisiknya ketiup angin wkwk. Ada dua orang sahabat wanita yang selalu bareng kami sejak di funicular. Saya ngeh dengan keberadaan mereka karena mereka selalu tertawa. Di funicular, di gondola, dan di puncak gunung, mereka selalu tertawa bahkan pas di puncak sini, mereka begitu terpingkal-pingkal sampai guling-guling. Saya gak tahu apa yang mereka tertawakan, tapi saya ikut ketawa juga. Saya suka tawa yang menular seperti ini.

Saya lalu meminta Mas Gepeng fotoin saya duduk di pinggir tebing, setelah memberinya contoh dengan memotretnya terlebih dahulu. Cekrek cekrek. Lalu saya lihat hasilnya, dan kecewa. Minta ulang. Cekrek cekrek. Lihat hasilnya. Kecewa lagi. Ya sudah, mungkin memang lokasinya sulit. Saat duduk di atas bersama si eyang, saya minta Mas Gepeng fotoin saya dan eyang. Cekrek cekrek. Lihat hasilnya. Kecewa. Gelap amat! Wajah kami gak kelihatan! Kenapa gak bilang kalau backlight!? Kesal.

Ya sudah cari yang mudah. Minta fotoin pas di tengah gunung biar kelihatan gunung saljunya. Cekrek cekrek. Lihat hasilnya. Lha mana ogutnya? Kagak ada. Oh ada di situ, lebih kecil dari orang lain. Great. Kesal sekali. Saya ambil kameranya dan berpaling.

This is actually happens every time we traveled. Every. Single. Time. Di Filipina, di Jepang, Malaysia, di mana pun, saya seharusnya sudah terbiasa tapi entah kenapa di sini, di Nordkette, saya merasa kesal. Saya gak habis pikir. Di saat saya fotoin dia lagi mendaki, lagi lepas kaus kaki, lagi bengong di pinggir tebing, lagi mendongak ke langit, masa dia gak ada keinginan yang sama? Di tempat seindah ini, dia gak mau mendokumentasikan istrinya gitu? Giliran diminta, fotonya gak niat.

Saking kesalnya saya sampai nangis. Biasanya saya marah saja, tapi ini sampai nangis. Artinya bisa dua: (1) Mas Gepeng yang sudah kelewatan gak bisa fotonya, atau (2) saya berlebihan. Saya lalu duduk. Diam saja duduk memandangi gak tahu apa. Mas Gepeng merasa bersalah. Tentu saja. Selalu seperti itu. "Apa susahnya sih fotoin aku yang bagus biar ada kenang-kenangan di Nordkette?" kata saya getir.

Ini saya lagi ngambek, terus difoto-foto. Yaaa bagus sih fotonya.

The sun shine brighter after the rain (they say)

After cried and silent moment gak sampai lima menit, saya berdiri dan berjalan turun pelan. Mas Gepeng yang sudah pegang kamera berusaha fotoin saya dari berbagai sudut. Dari sejak duduk sampai saya jalan turun. Dari dia sok ambil gambar sambil jongkok sampai miring-miring. Saya buang muka terus, tapi akhirnya ya balik senyum-senyum lagi gegara Mas Gepeng terus manggil-manggil biar nengok.

Saya akui saya berlebihan. Hanya demi foto bisa sampai nangis. Memang foto bisa bikin apa sih? Memangnya harus ada foto diri di sana demi membuktikan sesuatu yang sebenarnya gak perlu? Dan memangnya, foto bisa menyaingi rasa bahagia bisa berada di Nordkette, berdua sama suami yang sabar menuntun saya trekking, yang bawain minum, bawain sepatu, yang sama-sama duduk di kursi kayu dan ajak video call keluarga di Indonesia?

Dan kenapa juga menuntut sesuatu yang memang bukan kelebihannya Mas Gepeng? Padahal dia tuh gak pernah marah kalau saya lelet lelet pas di bandara, gak marah kalau saya campur baju kotor sama baju bersih (dia benci banget ini sebenarnya wkwk), gak marah juga kalau dia difotoin pas jelek-jeleknya misal pas lagi koloran doang atau pas lagi pipis di pojokan semak-semak. Padahal selama empat tahun pernikahan, saya masih terus melakukan itu every single time wkwkwk.

Kenapa hal receh kayak gini bisa merusak hal yang lebih esensial? Memalukan! Hih! Alay!

Lompat ke kasur salju biar adem hati menghadapi istri ngambekan wkwk.
Habis nangis ketawa makan gula jawa~
Santuy aje dooong kek si kakek~

Tapi kalau kamu gak punya (what they say as) instagram-husband dan ingin suamimu jadi instagram husband, ini saya ada lima tips:
  1. Cari dulu spot yang bagus, jangan malah asal kasih kamera terus nanya foto yang bagus di mana. Asli ini namanya nyiksa orang.
  2. Kasih contoh. Paling mudah adalah kasih tahu kamu mau foto di sudut mana, keker di kamera, dan titip jagain kamera gak pindah-pindah. Mas Gepeng paling pinter ngikutin metode ini, dan dia suka improvisasi lucu aneh-aneh gitu wkwk.
  3. Konsep foto jangan susah-susah. Saya paling suka di foto pas sambil jalan atau lari atau sok-sok fashun gitu, jadi saya akan minta Mas Gepeng tinggal jepret jepret saja suka-suka, saya yang gaya-gayaan. Percaya lah, diantara 100 foto, at least ada tiga lah yang cakep.
  4. Ngambek, kalau yang motoin males-malesan. If he loves you, he'll do it no matter what wkwk.
  5. Terima lah hasil apa adanya. Saya tahu ini sulit. Tapi trust me, you'll smile ear to ear when you buka album dan lihat foto itu lagi. Hatimu akan hangat karena ingat perjalanan itu penuh drama dan renjana.

Ke gunung sapi

Setelah dari Nordkette, kami makan siang roti di kota sambil istirahat ngadem. Ternyata main salju gak selamanya dingin dingin empuk bosku! Kulit saya kepanasan sampai benar-benar kering, kusem, ireng elek lah! Sempat 'cuci muka' pakai salju pun ya gak efek apa-apa, hanya dingin gitu doang. Apalagi saya gak pakai sunblock, gajah makan kawat wah gawat!

Setelah istirahat, kami lanjut main ke Gunung Patscherkofel di selatan Innsbruck, yang ada gondolanya juga. Dari pusat kota, kami harus naik bus sekali saja menuju gunung, ini masih free jika pakai tourist pass. Ternyata eh ternyata, kami salah naik busnya wkwk. Yang harusnya ke arah timur, lha ternyata kami naik yang arah sebaliknya. Bus pun juga harus ngetem dulu menunggu penumpang. Tapi ya mayan sih, kami jadi bisa ikutan ngetem dan lihat kawasan gang-gang kecil di sekitaran Innsbruck yang ternyata super cantik.

Btw, bus juga lewat ke gang-gang sempit lho, even yang muat cuman satu bus saja, gak pakai ada orang atau kucing. Lewatnya juga cepat gitu jalannya. Supirnya canggih.

Pas lagi ngetem, Mas Gepeng bobok sambil naruh botol minum di perutnya. Entah apa maksudnya gak paham.
Pemandangan setelah melewati Igls.

Saat tiba di Stasiun Patscherkofel, ternyata sudah terlalu sore. "Maaf setelah 15 menit, gondola gak akan mengangkut penumpang turun lagi, kalian orang terakhir dan ini sudah mau tutup, okay?" kata petugas. Kami tentu ikut saja, karena gak mungkin kalau kami terus naik sampai gunung dan gondola berhenti beroperasi, masa kitorang gelinding turun ke bawah wkwk. Jadi ya sudah naik gondola langsung PP saja.

Bagian gunung ini berbeza sama Nordkette. Dia sedikit lebih landai dan lebih banyak rumput dan pohon hijau. Di puncaknya ada salju tapi di sana saja, gak sampai bawah-bawah. Kalau pas musim dingin, banyak orang ke Patscherkofel untuk main ski, malahan mereka punya night skiing buat para pecinta gelap-gelapan dan di atas sana, ada resort bagus. Karena hanya sampai stasiun pertama, tentu kami hanya lihat pemandangan saja. Kami naik gondola berwarna merah dan pas sudah agak ke atas, kami bisa melihat pegunungan Alpen berjejer jelas sekali. Cantik!

Gondola besar untuk kami berdua saja. Bebasss menikmati pemandangan.
Pemandangan sekitar Patscherkofel.
Setelah foto ini, saya ganti baju di dalam gondola karena sudah kepanasan. Lucu ya, di atas gunung salju tapi kepanasan.

Nah yang paling saya suka adalah bagian padang rumput di kaki gunung. Kenapa? Karena banyak sapi-sapi dengan kalung lonceng! Saya suka sekali sapi pakai lonceng! Jadi saat kami duduk di kursi kafe menghadap gunung, kami mendengar bunyi kleneng-kleneng banyak sekali. Serasa di peternakan—padahal belum pernah juga ke peternakan sapi wkwk. Ini suara yang kalau kata anak zaman sekarang, comfort sound. Eh ada kan ya istilah itu?

Sebenarnya saya kasihan sama sapi yang kalung loncengnya besar-besar, jadi berat lehernya dan kayaknya susah kalau mau mendongak. Kan sapi juga mau lihat langit biru dan burung-burung yang terbang, bukan hanya ingin merumput atau mencium kotorannya sendiri. Kasihan hix hix. Saya lalu beli dua buah lonceng sapi besar di toko souvenir untuk kenang-kenangan dan menggantungnya di pintu rumah supaya selalu ingat dan mendoakan para sapi-sapi kuat itu.

Kami duduk-duduk lumayan lama di kursi kafe. Mas Gepeng agak gak enak karena kami gak pesan apa-apa sedangkan ini kan bukan kursi umum. Tapi biar saja, sudah mau tutup ini nanti kalau pesan malah gak habis. Rasanya gak ada kenikmatan yang sama dengan duduk di pinggir gunung, saat cuaca cerah, dan melihat sapi-sapi merumput bersama, jadi santai saja jangan buru-buru, gak ada juga yang dikejar.

Sapi-sapi merumput.
Adek yang sedari tadi lihat sapi merumput, digendong balik ibunya mau diajak makan.

Memang kata-kata adalah doa. Kata Robert pagi tadi, ini hari spesial untuk saya. Dan iya memang hari ini sangat spesial untuk kami berdua. Bisa mewek di Nordkette adalah hal yang spesial (bayangkan kalau saya gak ngambekan, cerita ini akan membosankan bukan? Haha). Salah naik bus dan kami bisa lihat-lihat Igls, juga spesial. Lihat sapi pakai kalung lonceng, lalu mendapati range pegunungan Alpen sedang cerah-cerahnya, even more special. Apa yang kurang dari hari ini?

6 comments

  1. itu yaaa narok botol di perut karena kepanasan. botolnya dingin abis isi ulang di pancuran

    -gepeng-
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ooh gicu... Etapi, aku malah jadi ngitungin selama di Austria, kamu ketiduran berapa kali ya? Di bus, di toko roti, terus kita kan bobok siang dibawah pohon belakang museum yah xixixi

      Delete
  2. Salut sama kakeknya, sampai 90 tahunan masih kuat :D saya yang masih muda jadi malu karena sering malas-malasan even cuma untuk naik tangga :))))

    By the way soal foto itu saya bisa paham perasaan mba yang ingin punya foto bagus di tempat-tempat indah especially kalau tempatnya jauh dari Indonesia dan bukan tempat yang dengan mudah bisa kita datangi saat ingin datang :D soalnya saya sendiri juga nggak punya foto-foto perjalanan yang ada sayanya ~ mostly hanya pemandangan saja :>

    So saya doakan semoga meski nggak banyak foto yang mba punya di tempat-tempat indah tersebut, tapi kenangan ketika mba di sana bersama orang tersayang akan selalu melekat di benak ya karena itu yang paling utama :D dan ditunggu cerita-cerita berikutnya <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa itu eyang nenek hahahaha. Tapi emang cool sih, naik gunung pelan tapi pasti dan kelihatan menikmatiii banget.

      Amiiin makasih yaa doanya baik banget. Semoga kamu juga punya cerita-cerita seru keliling dunia yah 💛

      Delete
  3. I feel you sih mba :D. Akupun kdg bisa ngambek sampe nangis gitu ke suami kalo sdg traveling :D. Saking keselnya itu pasti.

    2021 itu, sekitar Agustus aku udh ambil trip ke east Europe, salah satu negaranya ntr Austria juga. Tp ga tau deh bakal mampirnya ke kota mana hahahahaha... Yg ptg booked dulu tripnya :p. Ga sabar banget , tapi semoga ga ada wabah2 apa lagi lah yg bikin trip cancel ..

    Sukaaaaaa baca cerita kalian tiap traveling :). Mas gepeng itu ngingetin ke suamiku juga yg slalu mau nemenin istrinya , mau diajak ke tempat2 aneh dan dia cuma pasrah :p. Bawain koper yg berat, packingin semua belanjaan ku supaya rapi :D.makanya walopun kdg aku ngambek, tp kalo udh inget yg dia lakuin, lgs reda lagi sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga kepikiran suamimu sama lawaknya kayak Mas Gepeng, suka entah gitu kelakuannya. Kayaknya kalo ketemu cocok, apalagi kalo bisa jalan bareng wkwk.

      Amin! Semoga beneran sesuai prediksi ya April udah beres masalah Corona ini. Ke Austria sama suamik? Atau ikutan open trip Mba?

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!