January 30, 2020 Jiantangzhen, Shangri-La, Deqen, Yunnan, China

Diajak Biksu ke Rumahnya di Songzanlin Monastery, Diapain ya Kita?

"Gengs, gue kok gak tenang ya, curiga gue..." bisik Agung pelan pas kami berempat duduk mengitari kompor di ruang tamu rumah seorang biksu. Meski berusaha tenang, wajah Agung memang tampak waspada. Punggung yang biasanya bengkok, tahu-tahu tegak. Semua gerak gerik biksu gak ada yang luput dari lirikan mata Agung. Karena pernah mengalami hal serupa pas di Nepal dulu, saya dan Mas Gepeng merasa baik-baik saja, meski saya juga berkata, "Kalau pun dijahatin, nanti kita lawan terus langsung kabur saja, Mas Gepeng kan lebih gede badannya (dari si biksu)."

Semua ini gak akan terjadi kalau kami tetap bertahan menonton Gedong Festival di main hall. Tapi kalau begitu, cerita ini hanya akan jadi cerita biasa saja bukan? Mari kita mundur dulu ke beberapa saat sebelum kami makan keju basi dari si biksu.


Kejutan di Songzanlin

Kami tiba di Songzanlin sekitar pukul sembilan dan mendapati diri kami berjalan bersama banyak sekali orang Tibet mengenakan pakaian khas. Kebanyakan wanita memakai penutup kepala kain renda berbulu dan ban kepala tebal warna pink tua dengan buntut wool, juga atasan pink terang corak bunga warna warni dan sarung biru. Sedangkan para lelaki lebih suka mengenakan pakaian bebas. Beberapa memakai setelan koboy bapak-bapak, yang tua memakai atasan coklat tua dan topi berbulu.

Untuk menuju Biara Songzanlin, kami dan para warga harus mendaki 146 anak tangga. Saya beberapa kali istirahat ditemani Mas Gepeng, sampai akhirnya dia mendorong saya dari belakang gegara istirahatnya kebanyakan wkwk. Selama mendaki, kami melihat banyak tentara muda ganteng bahu membahu membantu warga yang kesulitan atau kelelahan saat naik. Mereka bisa menuntun, menggendong bayi, juga membawakan barang. Mereka juga berjaga siapa tahu ada yang butuh bantuan, jadi jodoh mungkin?

Selamat datang di Songzanlin Monastery.
Orang-orang memenuhi tangga menuju biara.
Seorang nenek menggendong cucunya naik ke biara. Pemandangan yang banyak ditemui selama di sini. Kuat kuat sekali para wanita Tibet.
Tentara muda nan ganteng nan kinyis-kinyis membantu ibu naik tangga.

Sesampainya di atas, ternyata main hall sudah banyak orang. Bukan hanya warga lokal yang datang sebagai pengunjung dan penjaja jajanan, tapi juga wartawan yang bertengger eksklusif di sisi bangunan dan turis-turis yang siaga dengan kameranya. Kami gak tahu ini ada acara apa, yang pasti bukan pernikahan atau pemakaman. Sambil makan kentang goreng, kami celingak-celinguk mencoba mengintip ada apa di depan sana.

Sedikit-sedikit kami mulai tahu, ada tiga orang yang pakai topeng dewa warna biru, putih, dan kuning, lalu satu yang pakai topeng yak (banteng) dengan baju warna warni. Mereka menari cham sambil disaksikan oleh biksu dan para warga, diiringi musik tradisional yang indah sekali. Saya sempat kira ini kaset yang diputar dengan speaker, ternyata live dimainkan oleh warga lokal. Iramanya menarik sekali. Ceria tapi syahdu karena suara dari alat-alat musik tradisional sangat khas dan serasi. Salah satu musik paling indah yang pernah saya dengar.


Pemandangan kota dari ketinggian.
Kentang goreng berbumbu bubuk cabe Sichuan. So good!
Pare tetua di bangku penonton.
Suasana di sekitar main hall.
Cham dance topeng yak di tengah festival.
Penari topeng yak. Cakep banget kostumnya!
Gerbang biara kecil di kawasan Songzanlin.

Rumah Pak Biksu

"Gengs, keliling ke belakang yuk, siapa tahu ada yang seru apa gitu," muncul ide menarik dari Agung. Kami berempat berjalan melewati gang antar biara, melewati anjing yang sedang mengorek sampah. Di belakang biara utama, terdapat banyak biara kecil dan menara-menara. Gak ada acara apa-apa di sini, tapi ada warga yang berdoa ke biara, ada juga yang berkunjung ke rumah-rumah kerabatnya.

Biara Songzanlin yang pertama kali dibangun oleh Dalai Lama ke-5 pada tahun 1679 ini mampu menampung 2000an biksu yang tinggal di biara juga perumahan di sekitar. Makanya di belakang ada kawasan pemukiman bernuansa hangat dengan warna krem di temboknya dan merah tua di tiang-tiang atapnya, khas rumah Tibet. Pemukiman ini bisa ditinggali oleh biksu, bisa juga oleh warga biasa. Di kejauhan, tampak perbukitan, rawa, dan hamparan lapangan luas yang kering. Lagi-lagi pemandangan dry winter yang menyenangkan.

Syahdu.
Musim dingin rasa summer.

Kami berjalan santai sampai tahu-tahu ada sosok gundul memanggil-manggil di depan sana. "Eh, dia manggil siapa? Kita?" tanya saya. "Iya, di ajak ke sana..." sahut Mbak Firda dibarengin rasa bingung tapi kaki kami tetap melangkah maju. Kami beberapa kali menahan jalan, takut kepedean ternyata memang gak ada yang ajak kami atau tahu-tahu dia gak jadi ajak wkwk.

Tapi biksu itu benar memanggil kami. Dia terus menuntun kami mengikutinya bahkan nungguin pas saya dan Mbak Firda berhenti buat foto. Kami masuk ke kawasan pemukiman, lurus, lurus, belok kanan, belok kiri, melewati rumah kosong, melewati lapangan, menanjak sedikit, lalu turunan, sampai akhirnya tiba di sebuah rumah dua lantai yang dia buka dengan kuncinya sendiri. "Wah rumah biksu nih gengs!" sahut saya. Kami dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. "Assalamu alaikum..."

Rumah Pak Biksu berwarna pastel dengan pagar tinggi berwarna merah tua. Bangunan dalamnya mirip kos-kosan karena ada dua bangunan kanan dan kiri yang panjang ke belakang. Halaman garasinya pun luas dan dikeramik merah tua. Nuansa rumah Pak Biksu sangat kaya dengan warna hangat cokelat kayu mulai dari daun jendela, pintu, kabinet lemari, kursi, meja, dan perabotan khas Tibet. Kalau melihat jumlah sandal/sepatu yang ada di sekitar garasi, sepertinya memang Pak Biksu tinggal ramean di sini.

Di ruang tamu ada heater tradisional yang panasnya berasal dari kayu bakar. Saat kami datang, heater sudah menyala jadi ruangan terasa hangat. Kami senang ketemu heater. Kami menghangatkan tangan, menepuk-nepukannya ke wajah, dan Pak Biksu tertawa, dia sadar kami sangat kedinginan. Berkebalikan dengan kami, Pak Biksu malah menanggalkan mantel merahnya. Ternyata eh ternyata, dalamannya ketekan bok! Saya yang tadinya mau lepas coat saja gak jadi karena masih merasa kedinginan, ini Pak Biksu malah lepas mantel.

Happy ketemu hater, eh, heater!
Pak Biksu menambah kayu di tungku.

Heater berbentuk meja itu juga difungsikan sebagai kompor, khususnya untuk menyeduh air panas dan teh. Pak Biksu mulai sibuk-sibuk. Dia merebus air di teko dan memberikan kami mangkuk teh kecil. Sekembalinya dari dapur, dia membawa tabung bambu ke ruang tamu. "Oh Pak Biksu mau bikin teh dengan itu?"tanya saya. "Chai... chai..." jawabnya. "Ooooh chai, iya teh teeehh..." kata Mas Gepeng.

Apa yang menarik dari teh ini? Ini adalah butter tea, alias teh po cha khas Tibet. Tabung bambu tadi bernama chandong, memang khusus digunakan untuk membuat po cha. Biang teh yang sudah dibuat oleh Pak Biksu dimasukan ke dalam chandong, ditambahkan air panas, garam, dan terakhir adalah yak butter.

Pak Biksu menutup chandong lalu menarik tuas diujungnya, seperti memompa tapi ke atas. Tujuannya adalah untuk membuat semua adonan bergejolak dan bercampur sempurna. Kami semua dipersilahkan mencoba melakukannya, mulai dari Mbak Firda, Agung, Mas Gepeng, terakhir saya. Saya sempat memompa terlalu kencang, airnya jadi muncrat-muncrat. Memang gak usah terlalu heboh yang penting adonan teh bergejolak. Saya sempat jilat teh yang tumpah kena tangan, dan rasanya asin. "Ini kayak tehnya Tabassum deh, Yong, tapi ada menteganya." bisik saya ke Mas Gepeng, mencoba recall pengalaman kami minum teh asin di Nepal.


Setelah tercampur, Pak Biksu memasukan teh ke teko dan memasaknya lagi. Selagi menunggu matang, kami ngobrol-ngobrol sedikit pakai Google Translate. Pak Biksu ternyata pernah ke Indonesia untuk berdoa di Candi Borobudur, dia juga pernah ke India untuk melakukan hal serupa. Jangan kira obrolan ini begitu mudah ya gengs. Kami seperti main tebak gerak dan kata, Pak Biksu tinggal jawab "Yaak.... Yaaaak... Yakk." dengan hentakan di ujungnya, kayak orang Betawi.

Mbak Firda mencoba mengaduk teh di chandong. Gambar kiri bawah adalah mentega Yak yang digunakan.
Po cha baru dituang. 

Gedong dan Keju Basi

Saat mengobrol, dua teman Pak Biksu datang membawa jajanan untuk kami. Mereka bukan biksu karena gak botak dan pakaiannya biasa. Saya rasa Pak Biksu sengaja panggil biar gak awkward kali ya karena susah ngobrol sama kami wkwk. Teman Pak Biksu lebih familiar dengan Google Translate, mereka tahu cara pakainya, lumayan memudahkan kami untuk komunikasi.

"Di Songzanlin ini lagi ada acara apa sih?" tanya saya ke mereka. Di terjemahan tertulis upacara lepas simpul. Kami terheran-heran. Perasaan gak ada tali temali deh tadi di sana, kenapa jadi simpul?

Belakangan saya tahu, hari itu adalah hari terakhir Gedong Festival (29 Desember). Konon selama acara ini berlangsung, para dewa bersama Dhammapalas akan turun ke bumi dan ikut merayakan dengan para penganut Buddha. Selama festival berlangsung, warga Tibet akan berdoa memohon rejeki dan kehidupan yang lebih baik di tahun depan. Secara harafiah pun Gedong berarti lubang, gak ada simpul-simpulnya. Mungkin lubang  jalur turunnya dewa dari langit, membuat ikatan (simpul) lebih erat dengan penganutnya. Hemm ngarang aje lu bambang.

Pak Biksu menuangkan po cha yang sudah masak sempurna ke mangkuk teh kami. Aromanya menarik, begitu juga rasanya. Meski rasa tehnya agak smokey, rasa menteganya mendominasi. Saya kurang bisa menikmatinya, tapi Mas Gepeng suka sekali. "Hangat di tenggorokan, perut juga jadi enak," katanya. Memang perut saya jadi hangat, terasa bersih dan licin gitu. Po cha adalah minuman sehari-hari warga Tibet, teman-temannya Pak Biksu begitu menyukainya sampai minta tambah. Kami gak minta tambah, tapi terus direfill ketika gelas mulai kosong. Bhaiq.

"Eh, Tong, coba ambilin itu dong," pinta Pak Biksu ke temannya untuk mengambil sebuah kendi kecil berisi bubuk hijau. Dia menuang beberapa sendok bubuk hijau ke dalam mangkuk, dan menuangkan po cha. Kemudian dia mengaduk campuran itu dengan tangannya hingga menjadi adonan padat. Setelah jadi bulat seperti mochi, Pak Biksu membagikannya ke kami. Rasanya seperti kue kacang tumbuk, tapi lebih mirip semen tumbuk wkwk.

Pak Biksu mengambil bubuk hijau.
Pak Biksu sedang membuat adonan kue.
Beginilah kue buatan Pak Biksu yang terbuat dari bubuk hijau dan po cha.

Di tangan saya ada bakpao sayur yang baru di makan setengah dan kue semen yang baru di makan seiprit. Setiap makan, saya minum po cha berharap bisa membuat semuanya masuk langsung gak pake kunyah. Tapi saya pun gak begitu suka po cha. Menyerah dengan cara itu, akhirnya sisa makanan saya masukan kantong coat (maaf Pak Biksu!). Beruntung temannya Pak Biksu juga bawa kentang, jadi saya makan kentang terus sambil tetap dituangi po cha. "Kentangnya enak!" saya memuji. Lalu saya teringat hal yang membuat saya penasaran sejak masuk ke ruang tamu Pak Biksu, yaitu sepiring keju dingin.

"Apakah ini keju?" tanya saya ke Pak Biksu dilanjutkan dengan isyarat memakannya. Dia mengangguk, mencicipi sedikit, lalu memberikan potekan kecil ke kami. Pas mencicipi, wajah teman-teman berubah dan tahu-tahu saya merasa terancam HAHA. Keju itu pun ikut berakhir masuk ke kantong coat.

Kami lanjut basa basi, mengobrol sana sini, tertawa sedikit-sedikit, sampai ada suara memecah keheningan saat situasi mulai awkward bingung mau apa. "Cabut yuk, kita kan siang ini mau balik ke Lijiang," kata Agung. Iya ya, hampir lupa dengan agenda perjalanan kami berikutnya, kebanyakan mikir habis ini dikasih makan apa lagi wkwk. Saya lalu menyampaikan ke Pak Biksu dan dia mengantar kami pergi setelah pamit dan foto bareng. Semoga bisa berjumpa kembali di Tibet, Bhutan, atau Borobudur ya Pak.

Kami dan Pak Biksu. Terima kasih kebaikannya, PakBik. Semoga selalu sehat.

Ini Hangat Untukmu

Saat berjalan balik ke main hall, saya membersihkan kantong coat dengan membuang sisa makanan ke tanah kosong, berharap akan larut menjadi pupuk. Lalu kami mulai mengeluarkan segala uneg uneg terpendam tentang kunjungan tadi, mulai dari teh mentega, kue kacang yang dibuat pakai tangan berkuku hitam-hitam si Pak Biksu, juga..... keju.

"Lu sih pake nanya, jadi makan keju basi kan kita..." omel Agung. Saya tertawa dan berdalih bahwa barangkali itu adalah keju legendaris khas Dali yang kebetulan sudah dingin, meski ternyata ya itu memang keju basi dan gak layak makan. Even Pak Biksu cicip hanya secuil banget. Ya kan kalau kata Adele, you'll never know if you never try hahaha.

Well, apapun uneg-uneg lucunya, kalau kalian duduk bersama kami di ruang tamu itu, saya yakin kalian bisa merasakan betapa baik Pak Biksu dan teman-temannya. Semua berjalan begitu alami, begitu santai dan mengalir. Pak Biksu dan semua orang yang kami jumpai di Songzanlin sangat ramah dan gak memandang kami berbeza, meski kami memang tampak berbeza sekali.

Matahari bersinar terang siang itu tapi hangatnya gak lebih hangat dari hati kami yang mendapat banyak kebaikan. Bisa menyaksikan Gedong Festival di biara Buddha terbesar di Yunnan, lalu dijamu ke rumah biksu, rasanya jadi kejutan manis buat kami yang sama sekali gak ada bayangan apapun tentang Biara Songzanlin.

Ini kah yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba?

Menikmati hangatnya matahari dan hatiqu~
Dan bisa bertemu dua anak gemas ini juga sangat menghangatkan hati.


Additional informationg...

  1. Menuju Songzanlin dari Dukezong, naik bus nomor 3 di halte terdekat dari South Gate. Ongkosnya ¥2 per orang jauh dekat. Jangan lupa pastikan tujuan ke Pak Supir ya.
  2. Harga tiket masuk buat turis sebesar ¥75 sudah termasuk ongkos shuttle bus PP dari loket tiket ke biara seharga ¥20.
  3. Gunakan sepatu yang nyaman dan baju sopan selama di Songzanlin ya.
  4. Orang Tibet sangat terbuka dengan turis, mereka gak marah meski ada makhluk durjana yang asal foto dekat-dekat wajah mereka tanpa izin. Saran saya sih jangan gitu-gitu amat lah. Hargai mereka yang sedang mengikuti festival dengan khidmat. Izin dulu kalau mau foto close up begitu.


P.s.: Bersama tulisan ini, kami juga menyampaikan turut berduka pada korban virus corona yang sedang terjadi di Wuhan, China, dan di wilayah lain seluruh dunia ya. Yuk saling support dan sama-sama berdoa semoga segera ada titik terang untuk virus ini. Semangat ya! Jaga kesehatan!

6 comments

  1. mau engga ya salah satu tentara ato polisinya jadi jodohque ? xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kita bisa coba balik lagi pas Gedong Festival, terus kamu pura-pura semaput pas naik tangga, terus nanti ditolongin sama mamas tentara. Kamu pengsan terus jangan bangun-bangun sampai benih-benih cinta itu muncul, ulala~~

      Delete
  2. Songzanglin ini aku suka banget, the best so far lah. Setiap sudut bikin mata terpukau kok ya pas ya ada Gedong Festival. Nuansanya juga bikin khusyuk dengerin musik sama tariannya. Plus diajakin makan siang ala tibet tu ga akan bisa terulang dalam hidup kita Oh foto-foto di cerita ini baguc bangetz
    -Gepeng-
    -Nama yang sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kok bisa beruntung banget pas ada festival Gedong ya. Tiffany pun gak bilang lho. Rejeki anek soleh, berkat doa para anak yatim (kamu sama Agung) dan Mbak Firda yang gak putus solat wkwk.

      Delete
  3. eeeh.. jebulnya 'rumah' kalian baru. keren...
    "kue kacang yang dibuat pakai tangan berkuku hitam-hitam" kok nggilani yes...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii Mba Dita lama deh gak mampir. Hihihi makasih yaa, lebih rapih nih rumahnya.

      Nggilani hahaha, tapi aku sejujurnya gak lihat, Mbak Firda yang lihat. Tapi kami semua gak ada yang cacingan kok, sehat sehat aja xixixi

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!