January 10, 2020 Huancheng E Rd, Xianggelila Shi, Diqing Zangzuzizhizhou, Yunnan Sheng, China

Eksplorasi Balagezong Scenic Area di Shangri-la, Zonk atau Gak ya?

Salah satu tujuan kami ke Shangri-la—selain mencari resep keabadian, xixixi—adalah menjelajahi Balagezong Scenic Area. Tempat ini merupakan salah satu Tibetan pure land yang dilindungi, makanya meski luasnya lebih dari 170 km², hanya beberapa area saja yang terbuka untuk turis.

Tapi Tiffany, host hostel kami malah bertanya-tanya, "Ngapain kalian ke Balagezong?" Tiff bilang bahwa orang ke sana tuh di akhir-akhir perjalanan mereka setelah hari ke tiga di Shangri-la, lha ini kami malah hari pertama wkwk. Meski dia tetap membantu proses booking ke tour agent, sebenarnya main ke Balagezong tuh zonk apa gak sih?


Cara menuju Balagezong

Kami berempat booked tiket perjalanan eksplorasi Balagezong dengan harga 220¥ per orang. Harga itu sudah termasuk tiket bus PP 50¥ dan tiket masuk + bus tour keliling 170¥. Dari tempat kami menginap di Dukezong, kami jalan 15 menit menuju tempat parkir umum north gate di mana bus akan menunggu semua rombongan. Menemukan busnya gampang kok, warnanya hijau dan ada tulisannya bus Balagezong gitu. Tapi sebelumnya, kami harus ambil tiket dulu di kantor tour agent dekat situ baru deh bisa naik bus.

Setelah seluruh rombongan naik dan 'kenek' menghitung jumlah orang, kami langsung berangkat. FYI, kalau bulan November - Februari, jam keberangkatan bus adalah pukul 9 pagi, sedangkan bulan Maret - Oktober jadi pukul 8.30. Gak tempe kenapa dibedain, mungkin kalau musim dingin, tidurnya jadi lebih lama wkwk. Bus gak menyediakan fasilitas apapun selain mengantar ke Balagezong, jadi jangan berharap ada pembagian snek atau air mineral.

Saat perjalanan dan kaca bus masih belum berembun. View-nya bagus bat!

Perjalanan ditempuh selama satu setengah jam. Satu jam pertama lumayan lancar, setengah jam berikutnya kita mabok-mabokan. Setelah masuk kawasan Balagezong, jalanannya jadi berkelok-kelok dan naik turun. Supir bus (yang sepertinya ada keturunan Sumatra) mulai mengeluarkan jurus maboknya alias gas terus gak pake ngerem. Bus baru berjalan (sedikit) lebih tenang setelah seorang turis berbisik manja ditelinga supir bus. Kira-kira dia ngomong apa ya?

Kalau kamu kebetulan gak ikut bus dan punya mobil sendiri, tetap bisa masuk ke Balagezong kok. Jalur yang ditempuh sama persis dan papan penunjuk jalan juga gak susah. Tersedia juga halaman parkir yang luas untuk banyak mobil. Atau bisa juga naik taksi, ongkosnya kira-kira 350¥ round trip.

Cara Keliling Balagezong

Setelah sampai, kami di-drop off dan diberikan kalung penanda ikutan tour. Jangan lupa, kita harus ingat plat nomor bus yang mengantar tadi karena kita akan pulang dengan bus yang sama, jangan sampai salah naik atau gak ingat busnya lalu kita ditinggal. Setelah itu, kami menuju ke halaman parkir bagian dalam untuk naik bus hijau lain yang akan mengantar keliling Balagezong Scenic Area.

Tapi sayang sekali, karena ternyata banyak orang yang datang naik private car, akhirnya bus jadi penuh dan kami berempat gak kebagian duduk. Lha terus? Berdiri dong? Ooo tentu tydac. Oleh pihak pengelola, kami disediakan private car dan private driver untuk keliling! WAW! Beruntung bangeeeet! Ternyata mereka ini sangat bertanggung jawab ya. Keren deh! Meski menggunakan jalur dan jadwal yang sama, setidaknya kami tampak lebih keren dan eksklusif xixixi. Enaknya lagi, kami bisa komunikasi langsung dengan Pak Supir pakai Google Translate dan bisa juga minta mampir berhenti di tengah jalan.

Membuntuti bus hijau yang harusnya kami naiki xixixixi.
Kami bersama Pak Supir yang pas dikasih tahu namanya, kami gak ada yang paham wkwk. Doi yang pakai topi di tengah. Sungguh menyenangkan dan baik hati.

Rute Keliling Balagezong

Baladayong Pagoda 

"Ini adalah tempat berdoa pada Buddha," kata Pak Supir menjawab pertanyaan saya apakah kami akan mengunjungi tempat ibadah atau gak di perjalanan ini. Jawaban dia merujuk ke sebuah bangunan besar bernama Baladayong Pagoda, kuil dengan delapan pagoda putih nan suci di depannya. Delapan pagoda ini disebut juga delapan harta orang Tibet yang memberikan orang-orang Bala nasib baik dan kehidupan bahagia.

Aturan masuk ke tempat ibadah ini adalah gak boleh pakai penutup kepala (jilbab gak papa asal gak warna warni), gak boleh pakai kaca mata hitam, dan gak boleh foto Buddha—takut pas foto tangan Buddha berubah jadi peace kali ya wkwk. Bercanda woy! Pokoknya gak boleh foto Buddha ya, yang lainnya boleh. Kemarin ada turis yang foto dan ditegur. Itu baru teguran dari pihak pengelola, kalau ditegur Buddha dalam mimpi gimana?

Posisi delapan pagoda suci dan Gunung Gezong hadap-hadapan dengan Bala Vilage, memenuhi filosofi bahwa pagoda dan gunung memberikan perlindungan dan nasib baik untuk para warga Bala. 
Bangunan utama Baladayong Pagoda.

Tempat dengan warna-warna menyala ini sungguh peaceful. Sederhana tapi mewah. Langit-langit kayunya sederhana, tapi untaian kain menggantung membuat atapnya semarak. Lantai satu digunakan untuk berdoa pada Buddha, sedangkan lantai dua digunakan untuk memberi penghormatan kepada dewa-dewi. Supaya ikutan tertib, sebaiknya kamu juga mengelilingi lantai dua searah jarum jam ya. Saya gak tahu boleh foto dewa atau gak, tapi rasa-rasanya tetap gak sopan sih kalau foto.

Di dekat wihara, ada hotel super bintang lima dengan megahnya berdiri menghadap ngarai Balagezong dengan latar belakang pemandangan Gezong the Holy Mountain. "Hotel ini adalah salah satu hotel termewah di Shangri-la," kata Pak Supir. Penampakannya sih gak yang heboh mencling-mencling gitu, tapi jelas bobok manja di tempat begini jadi kemewahan tiada banding. Kalau mau lebih ekonomis sedikit, di kawasan parkir Balagezong juga ada namanya Shuizhuang Hotel. Tapi kalau nginap sini, bingung juga malam-malam ngapain ya wkwk.

Lorong pintu keluar setelah thawaf keliling lantai dua menyapa para dewa dewi.
Bagian dalam kuil. Hampir semua komponen bangunan terbuat dari kayu dengan ornamen warna warni hangat seperti ini.

Echo Wall & Glass Skywalker

Pemberhentian kedua adalah tempat yang membuat Pak Supir kami begitu excited memberi tahu. Di dalam terjemahannya, tertulis glass skywalk. Waw. Sudah ketebak belum? Dari lokasi drop off, kami sudah melihat betapa tempat ini sungguh menjanjikan. Menjanjikan apa? Kelelahan. Gimana gak? Kami melihat jembatan kayu sepanjang 2 km dibuat menempel sepanjang tebing. Aslinya sih besi, tapi dilapis kayu mungkin biar lebih menyatu dengan alam. Eh tapi, panjang bat asli deh! Gak kelihatan juga ujuangnya di mana.

Kami berjalan menyusuri jembatan kayu. Terus berjalan tanpa ragu. Perjalanan yang seharusnya menyeramkan dan melelahkan, ternyata gak seburuk itu. Semua ini karena pemandangan yang kami lihat luar biasa indah. Sungguhan indah. Apalagi Gunung Gezong terlihat jelas tanpa tertutup awan atau kabut, membuat kami makin senang karena menurut kepercayaan lokal, barangsiapa yang bisa melihat puncaknya Gezong maka itu adalah keberuntungan.

Jembatan kayu masih sangat terpelihara. Kalau terus berjalan dan memperhatikan sekitar, kamu akan melihat sisa jalan setapak di tebing yang dulu digunakan oleh warga untuk menyeberangi lembahan.
Foto bebas bocor karena kami jalan paling belakangan. Ini kamera taruh di mana? Di atas tempat sampah. Banyak tempat sampah di sana, jadi plis jangan buang sampah sembarangan termasuk curhat-curhat sampahmu itu ya.
Setiap jalan menghela nafas panjang karena takjub melihat view kayak gini.

Gak terasa kami akhirnya sampai juga di ujung jembatan, dan ternyata kami beneran jadi orang terakhir yang sampai. Ya sengaja sih memang, supaya foto-foto kami 'bersih' dan gak keberisikan orang-orang teriak echoing—meskipun ogut juga sih teriak Oyoongg... Yoong... Yong...

Di ujung jembatan, ada menara untuk flying fox ter-SINTING karena jalurnya nyeberangin lembah. Edan! Memangnya kita ini ninja hattori apa? Kebetulan hari itu lagi tutup jadi niat Agung buat coba pun kandas (meski sebenarnya jiper juga dia wkwk). Gak kebayang kalau flying fox pas musim dingin kayak gini. Boro-boro teriak, yang ada beku di tengah jalan atau sudah mewek terkencing-kencing. Asli seram banget. Thank you, next.

Sebelum menuju glass skywalk, ada jembatan uji nyali. Jembatan besi ini didesain jarang-jarang dan BOLONG. Yak, bolong pepemimirsasah. Tapi tenang, kita gak bakalan jatuh kok karena jarak rangka lantai jembatan gak lebih dari satu telapak kaki orang dewasa. Jadi asal gak meleng dan jalan pelan-pelan, kita gak bakal kesandung atau gaswatnya lagi, jatuh di antara kedua lubang dan tit*tnya kena besi wkwkwk. Hanya saya dan Mas Gepeng yang coba jalan di sini dan sensasinya memang sendredeg itu gaes, but worth to try. 

Mau flying fox? Ada fee tambahan ya. Oh surat wasiat jangan lupa.
Menara untuk flying fox ada beberapa pilihan tergantung seberapa besar nyali dan uang yang kamu bawa.
Jalan di jembatan bolong-bolong. Panjang kaki saya sebenarnya ngepas banget sama jarak jembatan, tapi masih terjangkau oleh jari-jari. Seru! Dan atraksi ini gratis bok~


Atraksi terakhir adalah glass skywalker. Jadi ini adalah panggung kaca yang memungkinkan kita berdiri di atasnya dan melihat pemandangan di bawah kaki. Di China ada banyak atraksi kaca-kaca gini, kayak di Kunming, Dali, Lijiang, Yingjiang, dan lain-lain. Mulai dari yang bentuknya panggung kayak di Balagezong ini, jembatan tebing, jembatan gantung, dan terowongan.

Panggung kaca ini memiliki latar belakang super cantik yaitu Gunung Gezong. Saya rasa pemandangan gunung lebih 'menjual' ketimbang lembahan yang samar-samar terlihat karena terlalu banyak rangka besi yang menopang panggung kaca. Berbeza dengan jembatan uji nyali tadi, kita harus bayar 5¥ untuk bisa jalan di atas glass skywalker. Harga itu untuk menyewa kaus kaki pembungkus sepatu berwarna merah supaya pengunjung gak terpeleset. Karena kami malas bayar, jadi kami di pinggir-pinggirnya saja, toh bisa kelihatan juga bawahnya wkwk.

Bagus banget yaa pemandangan di panggung kacanya.

Karena kami paling terakhir menjajal glass skywalker, kami akhirnya telat balik ke parkiran mobil. Pas di tengah perjalanan balik menyusuri jembatan, Pak Supir sudah teriak memanggil. Kami tahu sih sudah telat, tapi malas juga lari. Lha kalau jembatannya rubuh gimana? Mengingat kata Pak Supir di awal tadi, jika ada barang yang terjatuh dari jembatan entah hp, kamera, apapun itu, maka kami—pihak pengelola Balagezong—hanya bisa memasrahkannya pada alam alias yaudah bodo amat gua gak tanggung jawab, kira-kira begitu. Saya rasa hal itu juga berlaku untuk orang yang jatuh dengan sengaja hmmmm.


Bala Village

Tahu kah gengs, sebenarnya Balagezong terdiri dari dua nama, yaitu Bala dan Gezong. Bala adalah nama desa asli Tibet yang ada ditengah-tengah scenic area, sedangkan Gezong adalah the holy mountain yang juga disebut sebagai The Peak of Shangri-la. Desa Bala disebut sebagai tempat ideal, yang menjadi tujuan banyak orang datang dari jauh demi melihat bagaimana rumah yang aman dari kejahatan perang dan penderitaan.

Kami di drop off di pintu masuk bagian atas dan akan dijemput di parkiran bawah. Karena terlalu lama di Echo Wall, kami hanya punya waktu sebentar di sini—yha meski naik private car kan tetap bukan private tour wkwk. Saya, Mas Gepeng, dan Agung langsung menuju restoran di parkiran bawah sedangkan Mbak Firda yang gak mau makan di restoran non-halal, pergi keliling menikmati desa. Lha lau ngapa makan di restoran non-halal malih? Ya maap, laper bat daripagi belum makan hix, lagian makannya tetap beef kok, beef sapi.

Anyway, kawasan Desa Bala sangat syahdu. Bangunan rumah menggunakan banyak elemen kayu, tembok-tembok berwarna krem dan cokelat pastel, pedestrian batu kali, serta warna warni prayer flag mengelilingi Marnyi Stone di ujung desa sungguh mencuri perhatian. Mengunjungi Desa Bala sebagai peristirahatan siang adalah pilihan yang tepat. Nuansanya asyik buat bersantai sekedar duduk-duduk menikmati Gunung Gezong dan pemandangan sekitar.

Desa Bala yang warnanya mimikri dengan alam. Foto oleh Firda Milla, hesteknya #shotoniphone #azek
Desa Bala yang dikelilingi pemandangan alam cantik.
Kucing birahi di desa.
Selamat siang Pak RT! Ijin lewat, Pak!

Shangri-la Grand Canyon

Ada gunung ada sungai (cakep). Dari mata air Gunung Gezong, mengalir dengan tenang Sungai Gangqu di antara ngarai sempit yang teduh dengan tebing super tinggi dan pepohonan rindang. Tapi kalau lebih hilir lagi dan sudah dekat pemukiman, alirannya jadi lebih deras karena mulai ada bebatuan, kamu bisa lihat alirannya sejak masuk area Balagezong. Sama seperti di Echo Wall, di sini ada jembatan kayu yang menempel tebing untuk memudahkan kita menyusuri sungai. Jembatannya lebih lawas, tapi masih kokoh kok (karena aslinya ya tetap ada besinya wkwk).

Yang saya suka dari berjalan-jalan di Grand Canyon adalah sinar matahari jadi samar-samar menembus tebing, membuat dedaunan yang berwarna warni jadi tampak seksi. Saya sering menyebut fenomena ini sebagai cahaya ilahi karena membuat semua menjadi begitu indah seperti surga. Mungkin surga lebih indah, jadi ini adalah surga kecil. Ohiya kalau kamu berjalan sampai ke ujung dalam sana dan ingin merasakan sensasi yang berbeza saat balik, kamu bisa rafting dengan biaya tambahan 120¥ per orang.

Semakin ke dalam, ngarai semakin sempit dan gelap. Seolah berada di kehidupan yang lain dan misterius, yang akan membawa mu ke suatu tempat.... ummm... tempat gaib. Hahaha. Gak ding. Legenda mengatakan bahwa tempat ini adalah 'the disappeared horizon', yang mana juga jadi tempat tinggal jiwa-jiwa abadi. Konon semakin ke dalam, maka akan semakin mystical and beautiful. Mungkin kamu akan menemukan Pokemon yang selama ini kamu cari.

Rafting di Grand Canyon Shangri-la.

Karena sudah malas berjalan, kami berhenti di tengah dan kembali ke awal jembatan untuk turun ke bawah demi mencicipi air Sungai Gangqu. Airnya tentu saja sedingin es, tapi sangat segar jika di-tap tap ke wajah. Jangan-jangan ini adalah resep keabadian dari Shangri-la? Air dari Gunung Suci Gezong, tentu jadi air suci juga bukan? Kalau di minum gimana? Hemmm tapi kayaknya bukan airnya yang bikin jadi awet muda, melainkan rasa bahagia ketika bisa cipratin air sesegar ini ke wajah yang berseri-seri.

Sepanjang melihat sungai, kami gak nemu ikan satu pun. Nyamuk dan yuyu juga gak ada. Sungai benar-benar sepi dan syahdu. Mungkin kalau lebih ke hilir, bisa ada makhluk hidup kali ya karena lebih hangat dan mulai dekat dengan kawasan tinggal penduduk. Tapi saat kamu di sini, jangan lupa untuk mencuci muka ya. Tapi cucinya pakai tangan dikibas-kibas, jangan menyelupkan wajahmu nanti beku wkwk.

Cuci muka di aliran mata air Gunung Gezong biar awet muda dan mestakung bisa balik lagi ke sini.
Air birunya bikin pingin nyemplung gak sih? Emm aku sih no.

Dejinka the Tongtian Canyon

Last stop adalah Dejinka, yang juga salah satu spot untuk melihat megahnya Balagezong tapi kali ini dari atas tebing. Sudah disediakan tangga dengan handrail untuk menuju puncak setinggi 4000mdpl. Karena kaki saya sudah lemas betul, saya hanya duduk di sisi tangga yang gak kelihatan sama Pak Supir, ditemani Mas Gepeng. Kami akan menunggu di sini sampai Mbak Firda dan Agung turun dan mendengar cerita mengagumkan yang mereka dapat dari puncak.

Belum ada setengah jam, tahu-tempe terdengar suara mereka berdua terengah-engah dari belakang. "Gila tinggi banget!" kata Mbak Firda, "Tangganya semakin curam terus udah gak kelihatan lagi sungainya, kering banget." Agung naik agak lebih tinggi, tapi dia juga menemukan hal serupa. Akhirnya mereka pun turun balik dan mending istirahat saja di mobil hahaha. Jadi monmaap nih gengs, bagian yang ini gak ada fotonya yha bye.



Additional Informationg...
  1. Masih ada banyak hal yang bisa dieksplorasi di sini, misalnya Xiangbala Pagoda (ada biaya tambahan), Naidang Ranch, Bodhi Tree, dan sebagainya.
  2. Semua toilet umum di sini bersih gengs, meski gak ada tisu, at least gak ada sampah atau bau gak sedap. Secara umum pun tempat ini bersih, kayaknya pihak pengelola benar-benar menjaga tempat ini.
  3. Banyak turis China yang wisata ke sini dan mereka gak meludah sembarangan spesial di Balagezong :')
  4. Bus khusus ke Balagezong berangkat pukul 9, sedangkan tour di mulai dari pukul 11 pagi sampai pukul 5 sore. Bus jalan balik ke Shangri-la tepat pukul 5.30, gak ngaret. Nyupirnya konsisten a la Sumatra jangan sedih.
  5. Kalau kamu benar-benar gak bisa makan di restoran non-halal, mending sudah bekal duluan. Bisa beli susu-susuan (plis cobain susu pisangnya) atau telur teh di koperasi parkiran. Harganya sama kok kayak di supermarket.

Begitulah rute perjalanan kami keliling Balagezong Scenic Area, ada lima spot utama dengan satu iklan yaitu panggung untuk melihat pemandangan (cakep juga kok). Buat saya pribadi, tempat ini sungguh worth to be priority. This is my happy place and my pure element. Kalau menurutmu gimana, Balagezong Scenic Area ini zonk gak? Apakah dia memang harusnya jadi pilihan terakhir ketika lagi di Shangri-la?

25 comments

  1. "Supir bus (yang sepertinya ada keturunan Sumatra)" hellow kita di provinsi Yunnan yang menurut sejarah nenek moyang orang Indonesia. Jadi supir bus itu bukan keturunan tapi kakek moyang kitah
    -gepeng-
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Supir busnya kakek moyang kita? Jangan jangan dia manusia super saiya, soalnya gak tua tua wkwk.

      Delete
    2. Super Zhongtong 4 dia. Makanya d cucok ngebut ngebut pake Zhongtong

      Delete
  2. gak zoooonk samsek! plis jadi mau banget ke shangri-laaaa~ Tuhan berikanku cuti yg banyak aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun pingin balik lagi, Mir. Lamaan di Shangri-la, pingin bertapa, pingin belajar masak, apa kek gitu. Tuhan berikan lah aku cuti dan uang yang banyak 🙏🏽 amiin!

      Delete
  3. Wah itu foto bangunan di tebing kayak foto-foto Tiger's Nest di Bhutan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Morishige, iya mirip. Karena sama sama dekat Tibet jadi masih terinfluence. Saya juga main ke Songzanlin Monastery di Shangri-la, itu lebih mirip lagi bangunannya sama Tiger's Nest. Nanti saya ceritain yaa~

      Delete
  4. wkwkwk, turunan medan ya sopir busnya? :D

    petaka membawa nikmat, malah dikasih private car kan lebih seru, bisa berhenti2 di spot2 yang kece.. :D

    pemandangannya cakep.. suka deh warna hijau sungainya.. masukin bucket list aaah...

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Bara,

      Iya, entah kenapa kami benar-benar beruntung selama di Balagezong, even selama di Shangrila. Banyak hal baik buat kami, salah satunya bisa private car ini, dan tahu gak, hostel kami pun kece beraaatt!

      Semoga bisa segera ke Shangrila yaa.

      Delete
  5. Waww... * mencari2 comment Kriswara Citra tapi tak ada. Pasti dia dusta dan PHP. Jadi kuwakili aja ya super lupp Bala Gezong ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Nadiaaa,

      Parah emang si Kric itu, jual mahalnya sampe di blog segala hahaha. Makaci udah mampir dan komen segala xixixi.

      Delete
  6. Bukan mau komenin postingannya, hahaha.. mau komenin : cieee template baruuu 😍😍 baguus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Icaa,

      Sekalian komenin tulisannya gak papa keleuuuus. Iya ini templet baru dan konsepnya baru juga. Sering sering mampir lho yaa~~

      Delete
  7. Cerita travelling nya selalu lucuuu dan full of drama so love it mba justiiin, bsk2 ajak aku juga yak jalan2 sama Alelo yaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makaci Bunbun. Oh iya, bekal parfum Possess-nya oke banget lho. Aku belum pernah traveling wangi kayak gitu hahaha. Besok besok kasih yg parfum cowok juga ya,biar Mas Gepeng juga ikutan wangi xixixixi.

      Delete
  8. Terimakasih Justin udah traktir aku alam dan dina makan. sbg gantinya aku kasih komen deh ini ya komen aku sama alam. muaahh love you

    ReplyDelete
    Replies
    1. Macama. Besok gantian Eyin traktir sushi paling mahal ya. Nanti kita balik komen ke postingan Ig Story Nuel yang lagi nyanyi nyanyi burung hantu kukuk kukuk~

      Delete
  9. Wow, tempat itu jauh dari kata zonk! Baguuus sekali. Wow kuilnya seperti di film2 gitu... Pemandangannya super cantik. Mantap!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Erdjon, iya baguuus ya! Kami pun masih suka lihat-lihat lagi fotonya saking kangen dan bagus! Kuilnya memang khas sekali karena ini juga dibuat oleh Dalai Lama. Banyak kuil Tibet yang dibuat berdasarkan inspirasi Dalai Lama, jadi mirip-mirip. Di China sendiri ada banyaaaak, misalnya di Lhasa tuh bagus banget!

      Delete
  10. Mbaaaaaaa kalo aku di sana, aku berharap bangettttt flying fox nya bukaaaaa hahahahaha. Pasti aku jajal ituuu. Gila, naikin adrenalinnya ga nangung2.. baru bayangin aja aku lgs orgasme hahahahah. Fix aku bakal masukin ini kalo ntr ke China LG.

    Yg glass bridge aku pasti bakal coba juga itu. Ini bukan jembatan yg sering ada di video viral itu yaa, yg kadang dibuat bunyi seolah pecah? Aku penasaran jg Ama jembatan itu soalnya :D. China ini memang jago bikin wisata yg ga biasa :D. Keren ah tempat yg kamu datangin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemmm duta banjejamping masa kini, silahkan mencoba flying fox ini. Mungkin buat kamu rasanya kayak terbang ya, terus nyanyi I believe I can fly~~.

      Yang panggung kaca itu biasa saja kok, gak ada bunyi pecah-pecah. Kami coba juga curi-curi injek, tapi ya biasa saja gak ada bunyi apapun wkwk. Mungkin yang di tempat lain ya, pernah liat juga di instagram. Ke sini juga dooong, pas summer biar bisa flying fox hahaha

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!