December 31, 2019 Yunnan, China

Panduan (Lumayan) Lengkap Menempuh Jalur Darat dari Kunming ke Shangri-la

Mencari informasi soal Shangri-La akan sangat mudah kalau itu berupa hotel. Tapi kalau Desa Shangri-La di Provinsi Yunnan? Wuah lumayan kudu sediain waktu lebih buat ubek-ubek Google, dan mending keyword pencariannya langsung pakai bahasa Inggris dan lebih detail, biar gak esmoci lihat info harga kamar mulu.

Katanya sih gak banyak orang pergi ke sini karena lebih tertarik dengan Lijiang yang punya old town fotojenik. Tapi saya, Mas Gepeng, Agung, dan Mbak Firda memilih memasukan Shangri-la The Mythical Himalayan Utopia dalam itinerary singkat kami mengeksplor provinsi Yunnan di Cina. Nah kalau kamu hendak menuju Shangri-la via Kunming seperti yang kami lakukan, maka tulisan ini akan membantumu meminimalisir drama-drama gak perlu. Silahkan cabaca.

Dari Bandara ke Stasiun Kota
Belum ada penerbangan langsung ke Kunming dari Indonesia, jadi harus transit dulu. Kami transit di Malaysia dengan pesawat AirAsia. Harga tiketnya 4juta per orang PP dibeli berbulan-bulan sebelumnya. Sebenarnya ada pesawat kecil yang bisa digunakan dari Kunming/Lijiang ke Shangri-la, tapi kami memilih jalur darat karena kere mau lihat pemandangan.

Kami tiba tengah malam di Kunming Changsui International Airport. Karena kereta dan bus baru beroperasi saat pagi, jadi kami numpang tidur gembel dulu di lantai B3 di mana ada kursi pijat untuk istirahat. Kalau punya saldo di AliPay atau WeChat, bisa pijat-pijat. Kalau gak, ya duduk saja. Yang sedih apa? Kami kehabisan kursi dan selimut gratisan. Kamu sudah bisa bayangkan gimana nasib kami selanjutnya kan? Wqwq.

Untungnya pas patroli, Agung nemu kursi kosong dan Mbak Firda langsung duduk di sana ngecupin. Saya dan Mas Gepeng yang sedang tidur di lantai langsung berdiri dan lanjut tidur di kursi pijat ungu yang ukuran punggungnya surprisingly sangat kecil. Bingung sih gimana rasanya pijit di kursi ini, punggung saja gak muat, tapi ya sudah gak bisa coba juga. Kalau kursinya nyala, kamu bisa numpang charge hp di situ. Tapi kalau gak, kamu bisa numpang colokan di tembok-tembok.

Tidur di kursi pijat lantai B3 bandara Kunming. Ada beberapa kursi kayu yang kalau digabung bisa jadi 'kasur', sayangnya cepat full-book.

Matahari muncul pukul delapan, tapi dua jam sebelum itu kami sudah di metro subway menuju Kunming Railway Station (KRS) dalam keadaan segar sudah cuci muka air dingin. Per orang ongkosnya 6¥ dan tiket bisa dibeli di ticket machine. Kalau kamu hanya punya pecahan 100¥ yang mana gak diterima sama si mesin, jangan takut jangan khawatir, kamu bisa menuju customer service dekat situ untuk pecah uang jadi dua lembar 50¥. Karena bukan money changer, penukaran ini hanya berlaku satu kali per orang ya.

Lalu gimana beli tiketnya? Jadi jalur kereta di Kunming itu ada tiga: jalur 1 & 2 (gabung di menu jalur 2 warna biru), jalur 3 (warna ungu), dan jalur 6 (warna toska). Kamu cari stasiun tujuanmu ada di jalur yang mana, misalnya KRS ternyata ada di jalur 6 dengan transit dulu di jalur 2. Tenang, gampang kok baca jalurnya karena mesin dan nama-nama tempat ada bahasa Inggris-nya. Lagian jalur cuma ada 3, lebih susah Jepang dan Korea Selatan hahaha.

Pilih stasiun tujuan, masukan jumlah orang, lihat total harga, masukan uang, mesin bekerja tududut tududut, tiket keluar. dan kembalian juga keluar. Selesai deh! Kami tinggal menuju security gate, tap tiket di gate masuk, dan menunggu di jalur yang menuju ke KRS. Ingat, perhatikan peta jalur di atas pintu gerbang kereta ya, jangan sampai naik ke arah berlawanan.

Terus gimana caranya kalau keluar dari stasiun? Masukan tiket ke lobang di depan gate and voila, gate-nya terbuka.


Tiket metro!
Suasana di dalam metro saat pagi. Di sini selalu ada pengumuman dilarang makan, minum, MELUDAH, dan berisik. Iya, orang China suka meludah sehingga perlu di-state khusus larangan ini. Menurutmu, masih ada orang yang meludah gak di dalam metro?

Mencari Lokasi Penukaran Tiket
Sesampainya di stasiun metro KRS, kami keluar dan berjalan sekitar 15 menit menuju gedung utama KRS. Pagi itu langit kelabu. Udaranya dingin banget sampai pipi rasanya cekit cekit. Kami terus berjalan, melewati godaan para penjaja rebusan hangat, bangunan-bangunan lawas, dan debu-debu intan. Iya, Cina itu dingin dan berdebu. Bahkan debunya bisa lebih tebal dari ketombemu.

KRS gak susah ditemui. Bangunannya tinggi besar dan khas sekali dengan dua menara jam kotak di kanan kiri, juga 'perahu' di atap. Karena pernah ada kasus penyerangan beberapa tahun silam, kami melihat banyak polisi dan tentara berjaga di sekitar stasiun bawa pentungan, tameng, plus mobil-mobil tentara. Degdegan sih, tapi kami lebih degdegan mencari tempat cetak tiket yang gak jelas juntrungannya. Sebenarnya, drama paling heboh ya pas di sini. Tapi saya langsung kasih cerita benarnya saja ya.

Jalan kaki menuju Kunming Railway Station. Ini sekilas pemandangan kota Kunming.
Kunming Railway Station, ada yak mau nyeruduk ditengahnya wkwk.

Tiket speed train Kunming - Lijiang bisa dibeli di Klook atau trip.com (kami beli di yang biru karena lebih murah xixixi, harganya Rp480ribu per orang sekali jalan). Karena sudah beli duluan, artinya data kami sudah masuk di ticketing system Kunming dan konfirmasinya hanya dengan ID paspor saja—yang artinya untuk warga Cina cukup dengan KTP. Canggih ya!

Oleh trip.com kami diberikan sebuah laman yang katanya tinggal ditunjukan saja ke petugas tiket dan mereka akan mengerti. Isinya sih bahasa Cina dan sebuah kode booking. Meski kenyataannya gak semudah itu petugas memahami maksud si laman, tapi selama kami masuk menggunakan ID yang sama dengan pas pesan tiket, pasti tetap bisa masuk.

Kami masuk ke security gate utama KRS. Sebagai turis, maka kami masuk ke pintu paling kiri dan memberikan paspor ke petugas untuk di scan di ticketing system mereka. Setelah itu, lanjut naik ke lantai dua menuju ke information center. Kami menunjukan laman trip.com tadi dan paspor, lalu petugas akan datang dan mengantar kami ke boarding gate-nya speed train. Dia memberikan bahasa tubuh bahwa kami harus mengantre di pintu paling kiri, yaitu pintu untuk ID paspor (yang lain untuk scan KTP). Banyak aktivitas scan paspor di sini, jadi jangan sedih kalau halaman ID bisa agak lecek yha.

Pemandangan di stasiun pas lagi antre masuk.

Kunming ke Lijiang
Jalur speed train ke Shangri-la masih dalam proses pembangunan, jadi kami naik kereta hanya sampai Lijiang, lalu lanjut naik bus. Speed train ini berjalan di kecepatan 120-200 km/jam dan waktu yang ditempuh sampai ke Lijiang adalah sekitar 3 jam. Keretanya cakeup gengs, dan katanya kereta ini lah calon kuat untuk jadi kereta Jakarta - Bandung kita. Asyik sudah ngerasain duluan~

Keretanya bagus. Lantainya bersih, toilet jongkoknya bersih, kacanya juga bersih jadi bisa dengan jelas melihat pemandangan luar. Ada petugas jualan snack, buah, dan aneka minuman. Oh ada juga yang jual souvenir replika speed train. Lucunya, mereka pakai pakaian tradisional jadi makin kerasa Yunnan-nya. Kalau kamu bawa kopi atau teh atau mie gelas, kamu bisa seduh di kereta, gak ada larangan bawa makan minum dari luar kok. Lokasi dispenser ada di dekat wastafel dan air panas baru bisa dipakai saat kereta sudah jalan. Ingat, air panas hanya ada di dispenser, jadi kalau mau cuci muka, ambil dulu baru bawa ke wastafel ya.

Asoooy naik speed traiiin~
Mas Gepeng lagi ambil air panas buat seduh kopi.
Banyak terasering di sepanjang jalan. Kadang hijau kadang coklat.

Yang gak asyique apa? Kalau kita segerbong sama grup tur yang berisiknya minta ampun. Atau kalau kelaparan dan satu-satunya makanan halal yang bisa dibeli adalah buah dan buahnya mahal (kemarin beli pisang satu box 25¥, mahal bat!).

Lijiang ke Shangri-la
Sesampainya di Lijiang Train Station, kami naik bus nomor 18 di halte depan stasiun persis dengan ongkos 2¥ per orang. Kalau bus gak ada, bisa naik taksi yang argonya dimulai dari 8¥ (btw, taksi di Cina bau gengs, bau apek!). Jaraknya lumayan jauh, tapi karena jadwal bus ada hampir setiap jam dan tiket belinya on the spot, jadi gak perlu panique ketinggalan.

Di stasiun bus, kami beli tiket untuk keberangkatan pukul 14.30 seharga 62¥ per orang. Busnya sih gak yang mewah gitu, tapi gak bobrok juga kok, nyaman dinaiki. Oh iya, semua pembayaran yang kami lakukan adalah cash. Kecuali kamu punya AliPay atau WeChat, kamu bisa go cashless. Ingat, EDC gak populer di Cina jadi jangan berharap terlalu banyak pada kartu-kartumu, apalagi LinkAja (yhaa).

Lijiang Train Station. Kalau kamu naik taksi dan bingung bilang tujuannya ke mana, kasih lihat fotonya saja.
Menunggu bus nomor 18, sudah kedinginan gak karuan.

Bus Lijiang - Shangri-la memakan waktu 4 jam. Lama banget sampai bikin sakit leher. Lha kok sakit leher? Iya, karena pemandangannya cuakep banget gengssss! Mau duduk di kiri atau kanan, akan melihat pemandangan bagus, lumayan bisa bikin lupa meluruskan kepala wkwk. Pegunungan salju, perbukitan, dan sabana-sabana cokelat yang kering, asli bikin perjalanan panjang jadi lebih menyenangkan. Musim dingin tapi dedaunan rasa autumn?

Selama perjalanan, bus hanya akan berhenti sekali di rest area. Di sini kamu bisa numpang pipis (sayangnya berbayar dan toiletnya jorok!) dan jajan-jajan aneka buah, kacang, sosis, dan ayam shilin. Selama parkir, bus akan dicuci sama orang rest area pakai air bertekanan tinggi. Maklum, Cina ini negara berdebu, apalagi jalur yang dilewati bus ini memang tanahnya kering banget, jadi wajar kalau kamu akan menemui mobil, jendela, atap rumah, semuanya berdebu tebal termasuk dengan bus.

Mau merasakan seberapa tebal debunya? Coba kamu masukan tanganmu ke sela-sela kursi bus, sebaiknya sih yang paling pojok. Gak usah lama-lama, beberapa detik saja. You're welcome.

Bisa beli kue kacang di rest area, kuenya dibuat langsung sama akang-akang ini. Enak kok rasanya, gak kemanisan. Kaya nougat kacang.

Kalau kamu sudah melihat jendela bus mulai berembun, ujung jari-jari tanganmu mulai gendut-gendut, jari kakimu mulai kesemutan ringan, dan kamu melihat kawasan yang begitu rapih, tenang, dan banyak mobil SUV putih dengan sunroof lalu lalang dengan kecepatan sedang, saya sudah bisa bilang selamat datang di Shangri-la.


Bakalan cerita banyaaak soal Shangri-la. Until then, happy new yeaaar to all of you my darliiingssss! ♡

13 comments

  1. Jadi ingin ke Shangrilaaaaa~ plis tulis yang lengkap kap kap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tempat kita banget sih, Mir. Kamu sama Junda haruz ke sana, ajak #justinindyo juga boleh xixixi. Tunggu ya, ada banyaaak cerita soal Shangri la nanti aku tulis

      Delete
  2. Detil bangeeeettt suka aku
    Eh eh taw ga buat cowo ni. Pas di kereta peluru misal mau pipir kan wc nya wc jongkok tuh, kan messy yah kalo ga perfect aim. Nah caranya pipis di wastafel hahaha tp bertanggung jawab yah mesti dibersihin pake air sabun
    -gepeng-
    -nama yang paling sering disebut di blog ini-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sumpaaaahh kamu pipis di wastafel????? Wastafel kan di luar WC???? Jijay banjay! Emangnya sesusah itu pipis jongkok? Asli wek nggilaniiiii

      Delete
    2. Wastafel yang di toilet duduuuukkkkkkkkkk. Susah tauk perfect aim dikala gerak gerak kereta tu. Paling gampang ya wastafel pas banget setinggi pinggang tinggal cur

      Delete
  3. Replies
    1. Udaaah. Jan banyak banyak nanti stok buat di ig gak ada wkwkwk

      Delete
  4. Wiii asiiik amat siii bagi tips liburan asyiquee duoongg 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleeeh dooong! Sambil jajan jajan cantik di mall karo geng jansuk~

      Delete
  5. duhh mana kelanjutannyaaaa?? gasabar mau baca nih kak hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Fariz. Anak BPJI bukan nih?

      Besok ada cerita lanjutannya ya, tunggu. Abis subuhan langsung baca oke :)

      Delete
  6. Huhuhu mau banget ke Shangrila juga. Btw kalau beli-beli gitu bisa pake CC gak sih? Trus buat kita orang Bule (er Indonesia kan bule bagi orang sono hehe), mau pake wechat atau alipay tuh memungkinkan gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kami pun pengen balik juga Mas Yan, Shangrila bagus banget. Wah sulid deh kalau pake CC, jarang banget ada EDC di sana baik di supermarket, toko souvenir, maupun restoran. Nah untuk pake Alipay/WeChat, ada dua cerita.

      Mas Gepeng gak bisa bisa bikin akun di Alipay. Meanwhile Agung bisa, tapi gak berhasil masukin CCnya. WeChat pun begitu juga. Kurang paham masalahnya di mana.

      Jadi karena udah keburu sampai China, akhirnya semua cash. ATM gak sebanyak di Indonesia dan lokasinya suka jauh, jadi mending ambil sekalian pas nemu.

      Delete

Habis baca terbitlah senyum. Komen dong!